by    0   2

Antara Nasi Dan Literasi

 

Bangsa kita konon katanya berada pada peringkat negara dengan sebutan masyarakat kategori tuna literasi. Menurut data World’s Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti! Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika.

Fakta diatas didasarkan pada studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu, perpustakaan, koran, input sistem pendidikan, output sistem pendidikan, dan ketersediaan komputer (Femina, 26/04/16). Bila fakta diatas menjelaskan realitas objektif bangsa kita tuna baca maka butuh perjuangan panjang membangun bangsa ini.

Bila budaya literasi rendah maka akan berdampak terhadap kemajuan kolektif bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa pembelajar. Bangsa pembelajar identik dengan bangsa yang literasinya baik. Kita lihat ada sepuluh negara dengan literasi terbaik versi World’s Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, diantaranya adalah : 1) Finlandia, 2) Norwegia, 3) Islandia, 4) Denmark, 5) Swedia, 6) Swiss, 7) Amerika Serikat, 8) Jerman, 9) Latvia dan 10) Belanda.

Mengenali Belanda sebagai peringkat sepuluh ternyata memiliki keistimewaan dalam hal menurunnya kriminalitas. Saya hanya menjelaskan sisi lain dari sebuah negara dengan literasi terbaik. Ternyata ada hal baik yang terlahir dari publik Belanda langsung atau tidak mungkin berkorelasi dengan budaya literasi. Budaya literasi yang baik akan menggiring suatu bangsa memahami sesuatu, mencoba menaati sesuatu dan membudayakan hal-hal baik yang diketahuinya. Bangsa dengan literasi tinggi dimungkinkan lebih beretika dan memahami peran dirinya sebagai sebuah warga negara.

Belanda sebuah negara yang pernah menjajah negara kita mengalami “krisis kejahatan” karena jumlah kriminalitas di negeri ini terus menurun. Dampaknya sekitar lima penjara akan ditutup, ini akan mengancam PHK bagi pegawai sipir penjara. Sisi lain kejahatan menurun adalah baik namun sisi lainnya pekerja di Serikat Pegawai Penjara (FNV) sekitar 1.900 karyawan lembaga pemasyarakatan akan kehilangan pekerjaan.

Berbeda dengan di kita, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mendapat keluhan dari 200 kepala lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia mengenai penuh sesaknya lapas yang mereka tangani. Ini anomali atau abnormali? Indonesia yang pernah dijajah Belanda harus belajar banyak pada Belanda bagaimana mengelola negara dengan benar. Belanda tingkat literasinya unggul sementara Indonesia tingkat literasinya tuna.

Dua realitas berbeda Belanda literasinya unggul dan kriminalitasnya menurun. Indonesia literasinya tuna dan kriminalitas naik. Ini sebuah pembelajarn bagi kita negara dengan budaya literasi baik melahirkan banyak hal baik. Diantaranya menurunnya kriminalitas. Dikita makan nasi lebih utama dibanding makan informasi. Bukan sarana perpustakaan yang lengkap melainkan saran kuliner yang lengkap. Nasi atau literasi yang ada dalam benak kolektif bangsa kita? Pastinya nasi.

Bisa jadi rumah makan atau kulineran jauh lebih menggoda dibanding masuk perpustakaan membaca dan menulis. Bila dihadapan kita ada nasi dan buku maka bangsa kita identik dengan segera mengambil nasi. Bangsa lain mungkin lebih lapar pengetahuan maka segera membaca buku. Makan sambil membaca atau membaca sambil makan adalah lebih baik, dibanding makan sambil bicara dan bicara sambil makan. Dua sifat yang jauh berbeda dan akan menghasilkan kualitas bangsa yang berbeda.

Nasi (makanan) atau literasi (bacaan) yang penting dihadapan manusia? Dihadapan binatang pasti makanan adalah hal menarik untuk memenuhi sisi biologis hewaniahnya. Untuk manusia bacaan atau literasi adalah hal menarik lainnya disamping kebutuhan biologisnya dalam bentuk makanan. Bila bangsa kita sudah memiliki budaya literasi yang unggul dimana literasi identik seperti nasi. Bila literasi menjadi kebutuhan pokok seperti nasi makanan pokok, maka punya harapan bangsa ini akan lebih baik.

Nah darimana kita memulai budaya literasi bagi bangsa kita yang realitasnya hari ini tuna literasi? Tentu jawabannya dimulai dari semua. Tetapi yang efefktif adalah dimulai dari generasi calon penghuni masa depan. Mulai dari anak-anak sejak dini. Peran orangtua di rumah dan guru di sekolah untuk mengenalkan menfaat budaya literasi dan akrab dengan buku. Ibnu Wahyudi, pengamat sastra dan pengajar penulisan kreatif dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Menganjurkan pengenalan buku sejak dini pada anak-anak agar ketika tumbuh dewasa sudah menjadi “aktor” budaya literasi.

Simpulannya generasi kita saat ini masih ramah dengan nasi karena sudah sejak kecil dikenalkan. Namun sisi lain generasi bangsa kita masih “asing” dari buku dan budaya literasi karena sejak kecil tidak dikenalkan oleh orangtua dan gurunya ketika di sekolah. Mungkin baru saat ini kita mengenal GLS (Gerakan Literasi Sekolah) dan PKK (Penguatan Pendidikan Karakter). Walau seperti terlambat mari kita sambut budaya literasi yang akan berdampak pada perbaikan karakter bangsa. Bangsa pembaca adalah bangsa yang tentu akan lebih beradab. Iqra. Iqra. Iqra.

 

Oleh : Keti Amaliah
(Siswi SMA Mandiri Balaraja)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top